Meaningfullife : Ada Keteduhan di Wajahnya


Oleh: Andi Ulfa Wulandari 

“Bukan semakin dewasa sehingga masalah bertambah. Justru karena masalah membuat seseorang semakin dewasa. Karena kematangan usia tidak menjamin matangnya pola pikir seseorang.” -AUW-

Sore itu, di tepi danau kampus merah yang dikelilingi oleh rimbun pepohonan hijau, kami terlibat perbincangan cukup lama, sesekali menyinggung tentang makna hidup, sesekali bercanda tipis, namun lebih banyak berdiskusi tentang hasil bacaan. Aku menyebutnya manusia unik, dengan segala isi kepalanya yang misterius.

“Dalam doaku, aku gak pernah meminta kesembuhan ibuku.” Perkataannya mengundang tanya di kepalaku, saat ibunya tengah berjuang melawan penyakit kanker dan dia telah mengeluarkan banyak biaya untuk pengobatan. Waktunya telah banyak dihabiskan di rumah sakit untuk merawat ibunya.

“Karena?” 

“Karena sehat, sakit, maupun mati sudah menjadi bagian dari kehidupan. Aku Cuma minta supaya ibu selalu diberi hati yang bersih.”

“It’s okay. Apa kamu baik-baik aja?” tanyaku memastikan. Meski terpancar keteduhan di wajahnya, aku tahu persis bahwa kondisinya tidak baik-baik saja, ibunya masih berada di ruang inap salah satu rumah sakit yang berada dalam lingkup kampus itu. 

“Hmm, gimana, ya. Kamu pasti udah kenal banget, aku sulit menceritakan masalahku pada orang lain.”

 Terangnya sembari menajamkan pandangan ke arahku.
“Nice, ada benarnya juga. Gak perlu, sebaiknya memang seperti itu. Kamu gak ada kewajiban untuk menjelaskannya pada siapa pun. Ketika kita menceritakan kesedihan, masalah, dan penderitaan kita, sebenarnya kita sedang membagi dan menambah beban orang yang kita tumpahi cerita.” 

“Bener banget. Coba deh, kalau kamu scroll kehidupan influencer di media sosial. Kamu tahu masalah hidupnya, pasti akan teringat, kepikiran, dan bahkan mungkin secara emosional ikut terpancing memberikan reaksi berupa komentar. Begitu juga ketika kita memberitahu orang lain tentang masalah yang kita hadapi, akan menambah list di kepalanya. Ketika kata-kata sudah keluar dari mulut kita, itu bukan milik kita lagi, tapi menjadi milik mereka yang mendengarnya. Aku cuma gak mau membebani kamu.” Dia menambahkan.

Tatapanku beralih pada orang-orang yang berlari kecil di tengah rindangnya jalanan kampus itu. Dia pun sama, sesekali melirik ke arahku yang sejak tadi terlihat kurang bersemangat.
“Kamu tahu, gak, segala sesuatu dalam kehidupan ini come and go. Tidak selalu ada tangis, sama seperti tidak selalu ada tawa. Manusia dan perasaannya juga seperti itu: datang dan pergi. Kalau kata Jalaluddin Rumi, life is a balance between holding on and letting go.” 

Aku mendengar penjelasannya, seumpama mahasiswa yang sedang takzim mengikuti kuliah umum. Seluruh gagasannya membuatku takjub. Tak mesti berbicara banyak soal teori di bangku formal, cukup memaknai hidup dari hal-hal sederhana, namun dibungkus dengan faedah yang ibaratnya berisi daging empuk. 
Sangat jarang aku bertemu manusia yang hampir seluruh omongannya positif, tak pernah membicarakan keburukan orang lain. Biasanya jika bertemu beberapa teman, ada saja unsur gibah yang terselip. Memang bukan rahasia lagi bahwa menceritakan orang lain itu rasanya mantap, sangat enak, syahdu, dan candu. Manusia yang satu ini berbeda, aku hampir tidak diberi cela untuk berpikir negatif karena untaian katanya kaya akan ilmu dan wawasan.

Dia mengajakku berjalan ke sebuah kantin, tak jauh, hanya perlu menyeberang jalan. Setelah menyodorkan minuman dingin, kami pun berlalu. Lagi-lagi dia menyeletuk, "Tahu gak bedanya hewan dan manusia?" 

"Tahu," jawabku sembari tersenyum tipis. 

"Apa bedanya?" 

"Akal. Bener gak? Manusia punya akal, kalau hewan gak punya. Kalau kata Aristoteles, manusia itu al-hayawan an naathiq, hewan yang berpikir." Jawabku 

"Hahaha, iya bener." 

"Kamu lagi pengen menguji kayaknya ya?"

"Nggak, iseng aja." Dia menoleh, dengan tawa kecil yang penuh makna. 

Masih dengan orang yang sama, namun dengan tempat, waktu, dan pembahasan yang berbeda. Sebuah mobil ambulance dan iring-iringan jenazah lewat, saat kami sedang duduk menikmati salad buah di persimpangan jalan. Katanya, kedai salad buah itu adalah favoritnya di kota metropolitan ini. 

“Kenapa berdiri? Ngapain juga kamu nunduk begitu?” tanyaku, karena merasa aneh dengan tingkahnya. Dia terlihat sedang memanjatkan doa.
“Jenazah itu awalnya juga sama kayak kita, punya nyawa yang buat dia bisa bergerak, bisa bicara. Bedanya, mayat itu sudah berjuang lebih dulu menghadapi maut. Dan perjuangannya patut dihargai, anggap saja sebagai bentuk penghormatan terakhir kita.” Jelasnya yang membuat dahiku berkerut. 

Usianya tergolong muda, masih kepala dua. Tapi pemikiran dan tindakannya lebih matang dari sebagian besar orang yang telah berumur yang pernah kutemui. Terbukti saat beberapa kali aku mengetes kepribadiannya untuk mengenalnya lebih jauh. Yang aku temui, dia adalah teman yang pandai dalam pengendalian emosi, self control, dan piawai dalam memaknai peristiwa. 

Hampir segala sesuatu yang ditemuinya akan dipikirkan dan diurai secara filosofis. Hingga suatu ketika, kami mampir di sebuah mesin ATM. Seorang perempuan tua ingin keluar dari ruang transaksi, dia kemudian membukakan pintu. Setelah perempuan itu keluar, gantian dia yang masuk ke ruangan itu.

 Tiba-tiba dia menoleh dan berkata, “Tahu gak, saat kita membukakan pintu untuk orang lain, hakikatnya kita juga tengah membukakan pintu untuk diri kita sendiri. Kayak tadi kan, dia keluar meskipun kita yang bukain pintu, dan kita juga bisa masuk. Artinya, saat kita berbuat baik pada orang lain, sebenarnya kita sedang berbuat baik untuk diri kita sendiri.”

Setiap orang yang ditemui, setiap tempat yang didatangi, dan setiap momen yang dilalui adalah buku tebal yang berisi rentetan pelajaran berharga. Bacaan, lingkungan, dan pengalaman lambat laun dapat mengubah pola pikir.  Setiap kejadian seakan-akan berkata, “Segala sesuatu yang mengganggumu berasal dari cara penilaian yang keliru. Bukan kejadian yang membuatmu bersedih atau menderita, tapi yang membuatmu susah adalah prasangka, pikiran, dan perspektifmu sendiri.” 
Betapa pentingnya menjadi pengamat, karena semua yang terlihat maupun terdengar oleh indera kita mengandung makna.

“Anak manusia yang lahir ibarat kertas kosong, masih bersih sesuai fitrahnya, belum terisi apapun. Maka pengalamanlah yang akan mengisi dan mewarnainya. Tapi hidup ini juga merupakan rentetan pelajaran, jika kamu tidak mengambil pelajaran dari pukulan pertama, maka kamu berhak memperoleh pukulan kedua”



Komentar

  1. Sangat menginspirasi kisah yang tertuang ini

    BalasHapus
  2. Bagus bgt tulisannya💕

    BalasHapus
  3. Banyak pelajaran yang bisa diambil dalam tulisan ini..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengaruh Filsafat Yunani dalam Dunia Islam

Koleksi Buku