Pengaruh Filsafat Yunani dalam Dunia Islam

Oleh: Andi Ulfa Wulandari


Kehadiran filsafat Yunani secara implisit memberi bermanfaat bagi umat Islam, seakan-akan menjadi penyempurna bagi keberadaan pemikiran Islam yang sejatinya sudah ada jauh sebelum mengenal logika Yunani. Namun dengan penerjemahan naskah-naskah Yunani, membantu pemikiran yang terdapat dalam dunia Islam menjadi lebih sistematis, lebih rasional, dan lebih mudah diterima serta dibuktikan secara empiris-rasionalis. Umat Islam juga dapat dikatakan membutuhkan filsafat Yunani untuk mengembangkan ajaran-ajaran Islam yang sesuai dengan desakan zaman. Menyesuaikan diri bukan berarti mengubah ajaran-ajaran Islam oleh mobilisasi zaman, akan tetapi umat Islam perlu menciptakan hal baru tanpa mengubah ajaran yang substansial. 
Pengaruh bukan berarti plagiat, hal ini tentu jelas berbeda. Ada banyak filosof Muslim maupun non-Muslim yang terpengaruh oleh pemikiran filosof Yunani sebelumnya, namun mereka tidak menyandang predikat plagiator. Seperti yang dilakukan oleh Ibnu Sina, walaupun pemikirannya mendapatkan pengaruh dari Aristoteles, tetapi ia juga memiliki pemikiran filsafat sendiri yang tidak dimiliki oleh Aristoteles yang dijuluki sebagai Al-Mu’allimul Awwal atau “Guru Pertama”. 
Filsafat Yunani mulai memberi pengaruh di kalangan ilmuwan Muslim pada masa pemerintahan Bani Umayyah, di mana metode-metode yang digunakan oleh filosof Yunani memberikan motivasi bagi para ilmuwan Muslim untuk lebih banyak berkarya dalam kemajuan pendidikan Islam. Sehingga muncullah ilmuwan seperti Jabir Ibnu Hayyan. Al-Kindi, Al-Razi, Al-Khawrizmi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan sebagainya. 
Melalui merekalah pengetahuan Islam telah melakukan investigasi dalam ilmu kedokteran, teknologi, matematika, geografi, dan bahkan sejarah. Namun, puncak perkembangan kebudayaan Yunani dalam pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah. Saat Bani Abbasiyah memegang kekuasaan di wilayah Islam, mulailah terjadi transformasi ilmu secara besar-besaran. Hal ini dimulai dengan adanya penerjemahan berbagai buku peninggalan Yunani ke dalam bahasa Arab. Terutama dalam bidang kedokteran dan filsafat, yakni pada masa kekhalifahan al-Ma’mun (198-300 H), dan pasca al-Makmun yang memunculkan beberapa penerjemah handal seperti Mata bin Yunus, Sannan bin Tsabit, Yahya bin Adi, dan Ibn Zur’ah. 
Menurut Nurcholis Madjid, terdapat dua corak filsafat Yunani dalam dunia Islam, yakni: Neoplatonisme dan Aristotelianisme. Neoplatonisme memiliki pembahasan yang cenderung bersifat mistis, serta banyak melahirkan sufisme yang juga dipengaruhi oleh peradaban Persia dan India. Peradaban filsafat Yunani juga tentu sangat terasa bagi filsafat Islam, terutama dengan munculnya aliran-aliran dalam filsafat Islam seperti aliran Paripatetik (Masyaiyah) yang dikenal berasal dari Plato dan Aristoteles. Dalam filsafat Islam juga dikenal sebuah aliran Isyraqiyah yang mana dalam filsafat Yunani disebut sebagai Iluminisme. 
Berbicara mengenai pengaruh Yunani terhadap dunia Islam memperoleh pro-kontra baik dari kalangan orientalis maupun oksidentalis, ada yang mengakui dan ada pula yang tidak. Namun, pada dasarnya setiap ilmu memiliki korelasi dengan ilmu lainnya. Tidak ada yang benar-benar murni, akan ada persentuhan atau pengaruh dari luar. Baik dari Barat untuk Timur atau sebaliknya, dari Timur ke Barat, jika hal tersebut memberikan kontribusi positif bagi perkembangan peradaban, maka sudah sepatutnya disyukuri bukan diingkari. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koleksi Buku

Meaningfullife : Ada Keteduhan di Wajahnya