JNE (Jadilah Noktah Energi)

JNE : Jadilah Noktah Energi
Oleh: Andi Ulfa Wulandari
“Do something today that your future self will thank you for”
 Hukum tarik menarik atau law of attraction benar-benar nyata, apa yang kita pikirkan kemungkinan besar itu juga yang akan kita dapatkan. Ini erat kaitannya dengan ajaran agama Islam tentang pentingnya berpikir positif (husnudzan), sebab segala sesuatu di alam semesta saling terhubung. Law of attraction merupakan hukum universal yang mampu berlaku setiap saat. Menurut hukum ini, manusia mampu menarik hal-hal yang sesuai dengan sesuatu yang diproyeksikan oleh pikirannya ke dalam hidupnya sendiri. Hal ini juga telah banyak disinggung dalam teori fisika kuantum, dan benar bahwa segala hal yang berada di muka bumi ini mengandung energi. 
 Kamu mungkin pernah bertemu dengan seseorang dan merasakan mampu menyerap hal-hal positif darinya, hal ini terjadi karena vibrasi yang dia berikan juga merupakan sesuatu yang positif. Padahal boleh jadi orang tersebut sedang tidak baik-baik saja, akan tetapi tetap memancarkan aura positif terhadap lingkungannya; entah dengan sebuah senyuman, optimisme, atau welas asih. 
 Perjalanan menuju kesuksesan dalam hidup ini ibarat membuat garis lurus, manusia memulainya dengan sebuah titik kecil di awal. Titik atau noktah ini adalah dirimu dengan segala yang kamu miliki, baik itu kemampuan intelektual, emosional, spiritual, maupun potensi sosial. Noktah ini akan merambat, perlahan akan melaju membentuk garis, dan dalam perjalanan itu akan banyak hal yang dilalui. Jika kamu berangkat dengan semangat atau energi yang penuh, maka dalam perjalanan menuju kesuksesan itu bukan hanya kamu yang akan merasakan kenikmatannya, tapi juga mereka yang berada di sekelilingmu. 
 Salah satu tujuan manusia dihadirkan di alam raya ini adalah untuk menebar kebermanfaatan terhadap sesama, karena dengan cara itulah sebenarnya hidup menjadi lebih bermakna (mindful life). JNE (Jadilah Noktah Energi) adalah pesan implisit yang aku peroleh dari sekian banyak pesan-pesan Ilahi di balik tiap peristiwa dalam hidup ini. Pada beberapa kasus, energi yang aku bawa kadang berlimpah dan kadang juga merosot. Namun aku percaya bahwa “Divine is always creating” (Tuhan selalu menciptakan sesuatu), dan dalam diri manusia terdapat sifat-sifat Ilahiyah yang jika disadari akan membuat manusia menjadi lebih mensyukuri hidup. 
 Karena keyakinan inilah sehingga aku memutuskan bahwa kreativitas menjadi kunci, baik dari keberlimpahan maupun kemerosotan energi, salah satunya melalui seni. Bagiku, seni itu tidak hanya membebaskan tapi juga mengasah kepekaan dan menjadi ajang penyaluran energi yang baik. Problematika kehidupan yang begitu berat, pikiran yang kacau, dan hati yang gundah gulana sebenarnya adalah pesan agar mengingat tujuan awal penciptaan.
 Aku mengatakan ini setelah melalui hari-hari yang melelahkan. Kisah ini aku bagikan dengan landasan prinsip hidup bahwa “Raga boleh mati tapi karya tetap abadi,” karena setiap tulisan akan menemukan pembacanya dan melalui tulisan aku berharap mampu menebar kebermanfaatan walau hanya senoktah.
 Aku adalah seorang ibu dari dua orang anak yang masih balita. Dalam perjalanan hidupku, aku dihadapkan dengan situasi yang ditakutkan oleh banyak wanita yaitu ketidakdamaian dalam rumah tangga. Sebagai seorang aktivis yang begitu semangat menentang patriarki dan berbagai bentuk kekerasan, aku merasa malu dan terpuruk karena hal itu ternyata menimpa diriku. Aku resmi menyandang status “Single Mom” setelah melayangkan gugatan atas tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) beberapa waktu lalu. Kekerasan fisik dan verbal tidak hanya menghantuiku dalam bentuk trauma, tapi juga mental anak-anakku yang melihat di depan mata. 
 Momen itu menjadi sangat berat, karena setelah insiden kekerasan yang aku terima, keesokan harinya aku harus berhadapan dengan tim asesor akreditasi sekolah yang akan melakukan penilaian akreditasi. Ya, selain sebagai IRT aku juga memikul amanah sebagai kepala sekolah yang setiap hari harus mengasah kreativitas untuk diaplikasikan dan dibagikan kepada tim. Lalu masih pada pekan yang sama, aku harus berhadapan dengan ujian tesis untuk penyelesaian program magister di salah satu kampus negeri. 
 Hanya berselang dua bulan pasca sidang tesis, aku kembali berhadapan dengan persidangan tapi kali ini adalah sidnag perceraian. Hari-hariku menjadi lebih berat karena bercampur dengan rasa takut dan trauma. Waktu terus bergulir dengan ritme yang tepat, namun kenyataan hidup tidak dapat terelakkan. Tak terasa palu hakim sudah diketuk, dan hari itu juga aku menerima telpon dari orangtua di kampung agar segera pulang karena ibu sedang sakit parah. Ayah memintaku resign dari tempat kerja dan kembali ke kampung halaman.
 Dengan mengambil resiko bahwa harus melepas pekerjaan sebagai kepala sekolah swasta dan memulai pekerjaan lain di kampung untuk berbakti pada orangtua, menjadi noktah awal bagiku untuk membentuk garis lurus yang baru. Satu hal yang aku syukuri bahwa energi yang aku pancarkan untuk ibu dan untuk mereka di sekelilingku cukup berdampak baik. Energi itu hanya berupa senyuman, ketenangan, dan produktivitas. Di tengah kekacauan isi kepala, aku sangat berusaha untuk terlihat tetap tenang dan melakukan kegiatan positif serta mengandung manfaat. Dan ternyata aku menjadi lebih produktif setelah menemukan bahwa zaman ini bekerja dapat dilakukan meski hanya dari rumah alias remote, tentunya dengan terus mengasah potensi dna melihat peluang.
 Rasanya dihantam bertubi-tubi, babak belur dari segala penjuru namun harus tetap berada pada kesadaran penuh bahwa hidup harus tetap berlanjut, bagaimana pun tantangannya. Setiap kali aku merasa berat dan permasalahan mulai menggerogoti pikiran, aku menyalurkannya pada beberapa hal, di antaranya:
1. Journaling. Menulis bagiku adalah bentuk healing yang tidak memerlukan biaya mahal tapi kaya akan manfaat. Journaling setiap hari membantu agra isi kepala lebih terurai, melatih untuk me-release emosi dengan baik, menjadi lebih kreatif, dan mengasah kemampuan menulis. 
2. Doodle Art. Selain menulis, aku juga menggunakan tehnik mencoret di atas kertas atau sticky note dnegan pola sesuai keinginanku. Selian menciptakan perasaan yang lebih baik juga bernilai estetika dan hasilnya mampu menjadi pajangan di kamar.
3.Olahraga. Hal ini sangat membantu selama proses pengembangan diri, karena mental dan fisik adalah dua sisi koin yang tidak dapat terpisahkan. Mental yang sehat akan berdampak baik bagi kesehatan fisik. 
Longlife learning. Belajar bagiku tidak hanya di bangku-bangku formal, tapi belajar dari siapa pun dan di manapun. Terkadang mengambil jeda sejenak jika benar-benar lelah, setelah itu melanjutkan perjalanan kembali untuk menciptakan hal-hal baik. 
 Pada intinya, jangan sampai berhenti, harus tetap melangkah ke depan. Badai pasti akan ditemukan sepanjang perjalanan, tapi perlu keyakinan bahwa badia akan berlalu dan di ujung jalan sana ada tujuan yang hendak dicapai. Sebagaimana JNE telah membersamai kita selama kurnag lebih 33 tahun, tentunya dengan ragam kisah menarik di dalamnya; entah kisah dari Bapak Djauhari Zein selaku business owner, atau juga kisah para karyawan yang tentunya penuh lika-liku namun memilih untuk tegak lurus ke depan. All is well in your world. 
#JNE #ConnectingHappiness #JNE33Tahun #JNEContentCompetition2024 #GasssTerusSemangatKreativitasnya


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengaruh Filsafat Yunani dalam Dunia Islam

Koleksi Buku

Meaningfullife : Ada Keteduhan di Wajahnya