FILOSOFI HIDUP MASYARAKAT LOKAL : BUKTI KEKAYAAN NUSANTARA

Oleh: Andi Ulfa Wulandari 


Tulisan ini merupakan reaksi dari pengembaraan literatur saya setelah menyeruput buku karya antologi dari Anwar Hafid beserta ketiga penulis lainnya, yaitu Ali Rosdin Muhammad Musoffa, dan M. Nur Akbar dengan judul besar Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal.
Tetapi yang paling masyhur dari keempat ini adalah Anwar Hafid, pasalnya ia telah menulis beberapa judul buku, salah satu yang terkenal adalah karyanya yang berjudul Konsep Dasar ilmu Pendidikan. Selain aktif di dunia kepenulisan, ia juga merupakan seorang politisi dan pernah menjabat sebagai bupati di Morowali, Sulawesi Tengah. 

Pengalaman memang dapat menunjukkan elektabilitas seseorang, seperti halnya para penulis buku ini. Karena terbiasa menulis, maka gaya penulisannya sangat khas dan mudah dimengerti. Judul bukunya memang Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal, tetapi inti dari pembahasan dalam buku ini adalah filosofi hidup dari beberapa kebudayaan yang ada di Indonesia. Kehadiran buku ini merupakan hasil dari sistem kerja yang diadakan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud), yang mana di dalamnya mengangkat empat bab yang meliputi: pendahuluan, falsafah kalosara dalam masyarakat Tolaki, falsafah bhinci bhinciki kuli dalam masyarakat Buton, dan terakhir falsafah "lar vul nga bal" dalam masyarakat Kei. 

Saya melihat bahwa yang dituliskan dalam buku ini sebenarnya adalah sesuatu yang memang dibutuhkan oleh negara kita sekarang. Perkembangan zaman yang modern dan kemajuan ilmu teknologi yang semakin canggih, secara tidak sadar telah membuat masyarakat melupakan nilai-nilai filosofis yang diwariskan oleh para leluhur. Bahkan tidak sedikit kita melihat hari ini masyarakat modern khususnya para generasi muda mulai mengalami krisis moral. Mereka justru menganggap bahwa falsafah hidup yang terdapat di dalam kebudayaan mereka adalah sesuatu yang kolot dan ketinggalan zaman. Padahal jika ditilik lebih seksama, nilai-nilai kebajikan yang terdapat dalam masyarakat lokal adalah bersifat perenial atau abadi, dan akan selalu sesuai dengan pergolakan zaman. 

Dalam buku ini disuguhkan beberapa hal menarik. Misalnya pada pembahasan falsafah kalosara yang terdapat dalam masyarakat Tolaki. Kalosara sendiri merupakan instrumen adat yang terdiri atas tiga aspek penting, yaitu: (1) Kalo, yang merupakan lingkaran yang terbuat dari rotan berwarna krem tua yang dipilin lalu disatukan dalam satu simpul ikatan. Benda ini dipercaya mengandung makna pencerminan jiwa persatuan dan kesatuan. (2) Kain putih sebagai pengalas kalosara, yang merupakan simbol dari kejujuran, keadilan, kebenaran, dan kesucian. (3) Lalu yang terakhir adalah siwoleuwa, merupakan wadah berbentuk segi empat yang terbuat dari hasil anyaman daun palem rawa dan daun anggrek hutan, memiliki simbol sebagai pencerminan jiwa kerakyatan, keadilan sosial, dan kesejahteraan umum bagi seluruh warga masarakat Tolaki. 

Dalam falsafah "bhinci bhinciki kuli" pada masyarakat Buton, memiliki makna filosofis bahwa jika ingin mencubit orang lain, maka cubit dulu diri sendiri. Hal ini juga berarti bahwa seseorang yang tidak mampu jujur pada dirinya sendiri, maka mustahil untuk jujur terhadap orang lain. 

Lalu pada pembahasan "lar vul nga bal", penulis secara gamblang menyatakan bahwa sebenarnya sebelum istilah ini berkembang, ada istilah sebelumnya yang disebut falsafah "dos teen an fit", artinya induk dosa ada tujuh. Yang dimaksud tujuh induk dosa di sini adalah: malas, rakus, tinggi nafsu seks, mengambil milik orang lain lalu enggan mengembalikan, berhutang namun tidak melunasi, berbohong, dan terakhir menghadiri sebuah acara mosehe tetapi hanya ingin makan dan bercerita (tidak mau bekerja). 

Jadi "lar vul nga bal" merupakan kelanjutan yang lebih luas dari "dos teen an fit" ini. Uniknya, ketiga falsafah ini sengaja diteliti dan diabadikan dalam bentuk tulisan karena dipandang bahwa ketiganya mengandung nilai-nilai kearifan yang dapat digunakan sebagai instrumen rekayasa sosial guna mendorong satuan pendidikan dan masyarakat agar bisa berperan dalam menanamkan kesadaran multikultur dengan segala perbedaan yang ada. Karena sebagaimana yang kita pahami bahwa Indonesia merupakan negara yang begitu kaya akan perbedaan, baik itu ras, suku, dan agama. Harapan besar saya dengan lahirnya buku ini sebenarnya adalah, agar rasisme yang sudah mendarah daging di negara kita dapat terkikis secara perlahan, serta menata kembali moral pemuda di era digital ini. 

Saya memandang bahwa masyarakat lokal kita sebenarnya sangat filosofis, dan ini menunjukkan kekayaan Nusantara. Kekayaan bukan hanya berkisar pada SDA atau sumber daya alam, tapi juga sumber daya manusia (SDM). Kepiawaian yang dimiliki masyarakat lokal dalam menciptakan karya dan karsa itu adalah aset besar. Pandangan hidup yang sangat filosofis itu adalah wujud dari kecerdasan intelektual manusia, namun kerap kali kita memandang remeh kemampuan nenek moyang sebelumnya, hingga tak jarang anak-anak modern  mengatakan bahwa pemikiran mereka (masyarakat lokal) sangat konservatif dan kolot. 

Mengenai cara penyajian dari masing-masing penulis dalam menyampaikan hasil risetnya, saya lebih tertarik pada cara Anwar Hafid dalam falsafah kalosara. Metodologi yang digunakan cukup rapi dan terstruktur sehingga mudah untuk dipahami oleh pembaca. Sementara itu, yang paling rumit untuk saya telaah adalah tulisan Muh. Nur Akbar dalam falsafah "lar vul nga bal", di mana beliau banyak menggunakan istilah asing (bahasa daerah) tanpa menyertakan maksud atau inti dari apa yang ingin beliau sampaikan, sehingga membingungkan pembaca. Terlepas dari kekurangan dan kelebihannya, buku Pendidikan Multikultural Berbasis Kearifan Lokal ini tetap menarik untuk diperbincangkan, didiskusikan, dan dijadikan sebagai bahan ajar di sekolah-sekolah bahkan di perguruan tiggi. 

Apresiasi setinggi-tingginya untuk para penulis yang telah melakukan riset mendalam, tentunya dengan waktu, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit. Semoga semakin banyak hal-hal inspiratif yang bisa dibagi dan dibincangkan bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengaruh Filsafat Yunani dalam Dunia Islam

Koleksi Buku

Meaningfullife : Ada Keteduhan di Wajahnya