Opini - Islam dan Perekonomian Modern
Islam dan Ekonomi
By: Andi Ulfa Wulandari
Sebelum terlalu jauh kita melangkah, saya akan menyinggung sedikit tentang apa itu Islam, dan apa itu ekonomi. Jika berangkat dari definisi secara etimologi, maka Islam berasal dari kata “aslama-yuslimu-islaman” yang artinya sejahtera atau memberi keselamatan. Sedangkan ekonomi nenek moyangnya berasal dari Yunani, tepatnya pada kata ”aicos” dan “nomos” yang berarti rumah dan aturan-aturan (untuk kebutuhan hidup).
Sehingga dapat dikatakan bahwa Islam adalah sebuah agama yang menjanjikan kedamaian dan keselamatan kepada pemeluknya termasuk di dalamnya kebutuhan materi yang ditunjang melalui pemenuhan ekonomi. Tetapi, ekonomi yang diharapkan Islam adalah ekonomi yang berlandaskan pada aturan-aturan Allah dan menjadikan ridha Allah sebagai tujuan.
Dalam Islam, ekonomi bukanlah tujuan akhir. Ekonomi hanyalah sebagai penunjang dan pelengkap kehidupan, serta menjadi sarana untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah. Di dalam agama Islam, persoalan ekonomi dikenal dengan istilah “mualamah al-mahdiyah”. Ada sebuah hadis tentang ekonomi yang kiranya dapat kita bedah bersama.
Dari Zubair bin Awwam, bahwa Rasulullah Saw., bersabda yang artinya: “Seseorang yang membawa tali ke bukit dan membawa pulang seikat kayu bakar kemudian menjual dan menikmati hasil penjualannya serta menyedekahkan yang lebihnya. Itu lebih baik daripada meminta-minta kepada manusia baik diberi maupun ditolaknya.” (HR. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan an-Nasa’i)
Berdasarkan hadis di atas, kita dapat memetakan beberapa hal sebagai berikut:
• Mencari dan mengumpulkan kayu bakar dapat diartikan sebagai usaha dalam menambah jumlah produksi.
• Menjual kayu bakar seirama dengan melakukan distribusi.
• Memakan hasilnya menandakan bahwa adanya konsumsi.
• Dan menyedekahkan lebihnya adalah sama jika dikatakan kita melakukan kebaikan-kebaikan sosial.
Ini yang ingin saya sampaikan sebenarnya, bahwa antara konsep Islam dan konsep teoritis perekonomian modern memiliki kesinambungan jika kita lebih jeli menganalisa. Jadi selain berlandaskan pada aturan-aturan Allah, konsep Islam juga terhindar dari ketamakan, dan bersifat saling menguntungkan satu sama lain, istilahnya dalam biologi mungkin simbiosis mutualisme. Berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis yang hanya mencari keuntungan sepihak.
Mari Kita Lihat Bagaimana Wajah Perekonomian Umat Islam Hari Ini!
Setelah melihat sikon (situasi dan kondisi) era ini, dengan jujur saya harus mengatakan bahwa menurut saya Islam tidak hanya mengalami kemunduran dari segi peradaban, tetapi juga perekonomian. Kita bisa menyaksikan betapa banyak negara-negara Islam yang berada di bawah telunjuk dan kaki orang-orang Barat. Meskipun begitu, masih ada beberapa negara mayoritas muslim yang tergolong borjuis, katakanlah Uni Emirat Arab, karena mereka memberdayakan lingkungan menjadi tempat wisata sehingga menjadi salah satu bank uang bagi mereka, dan tentu termasuk juga minyak bumi. Tetapi coba kita tengok negara-negara Islam yang lain, masih banyak yang berada di bawah kolonialisme dan imperialisme pihak-pihak terntentu.
Lalu, Bagaimana Agar Perekonomian Umat Kembali Bangkit?
Mungkin kita bisa coba cara ini:
• Kembali pada prinsip dalam sistem perekonomian Islam, sejarah mencatat bahwa di dalam Islam terkenal dengan istilah “the golden age of Islam”. Saat itu ilmu pengetahuan berkembang pesat, disusul dengan kemajuan ekonomi. Pasalnya, umat saat itu benar-benar memberdayakan fungsi akal untuk berpikir, berkarya, dan menyebarluaskan karya hingga menjadi sumber penghasilan. Bayangkan, karya tulis (buku) ulama seperti para imam hadis itu ditimbang beratnya, dan dihargai dengan emas oleh pemerintah. Artinya, para ilmuwan Muslim/orang-orang hebat kita sepatutnya diapresiasi
• Jika ditilik ke belakang, ada dua hal yang juga menjadi kesuksesan perekonomian umat, yaitu: kejujuran dan amanah. Karena sebanyak apa pun hasil yang diperoleh tidak berkah, maka akan lenyap tak tahu kemana hasilnya.
• Semangat dalam berwirausaha. Saya teringat pada perkataan seorang pengusaha muda yang memiliki hotel bintang 3 di Sulawesi Tenggara “Jika ingin kaya, jadilah pengusaha. Jangan mimpi jadi PNS saja.” Ini kata beliau. Dan memang 9 dari 10 rezeki itu dapat dihasilkan dari perniagaan., Rasulullah pun berniaga. Teringat juga pada penggalan ayat dalam Alquran yang artinya: “Apabila kamu telah selesai melaksanakan salat, maka bertebaranlah di muka bumi untuk mencari kehidupan, dan carilah keridaan Allah serta selalu ingat kepada-Nya ....” (QS. Al-Jumu’ah: 10)
• Bersatu, maksudnya di sini ialah umat harus bersatu dan bekerja sama membuat suatu network (jaringan). Lumrahnya setiap bisnis memang seperti itu, kita harus memiliki banyak jaringan untuk bisa menguasai perekonomian. Contoh yang paling dekat untuk orang-orang di wilayah Makassar, bisa perhatikan di jalan Veteran, jalan Sangir Talaud dan sekitarnya dikuasai oleh pedagang-pedagang Cina. Hampir semua eletronik dan mekanik berasal dari produk Cina, Korea, atau kadang-kadang juga Jepang. Dan kita bisa menyaksikan bahwa negara-negara yang saya sebutkan tadi ini termasuk negara-negara kaya. Ini menunjukkan betapa pentingnya membangun sebuah network.
• Becus dalam pengelolaan zakat. Jika zakat dikelola dengan baik, jujur, dan adil, maka kita bisa meminimalisir angka kemiskinan. Hasil zakat diberikan kepada orang yang membutuhkan, dan bisa ia jadikan modal. Bukankah zakat juga bisa berupa emas, ternak, uang, dll.
• Kebijakan pemerintah. Ini yang penting, karena sebobrok apa pun dan semiskin apa pun suatu negeri, jika pemerintah mampu memberikan sumbangsi dan memutar otak untuk membuka lapangan kerja bagi para pengangguran dan bani rebahan, maka sangat memungkinkan untuk membantu memajukan perekonomian umat. Pemerintah selaku pemimpin harus bertindak tegas dalam menerapkan sebuah kebijakan.
Komentar
Posting Komentar